Thursday, 20 November 2014

Ada kala kita memperlakukan diri kita dan ibadah kita kepada Tuhan begitu serius sehingga kita kehilangan sukacita dari iman kita. Muka kita menjadi muram dan kehilangan sukacita.

Mazmur 100 ini mengajarkan kepada kita apa artinya menyembah Tuhan dengan penuh sukacita sebagai tanda bahwa kita menjalani hidup kita oleh kasih karunia dan bukan karena bersandar pada kemampuan dan usaha kita. Kita diingatkan oleh Mazmur ini bahwa Tuhan memegang kendali atas segala sesuatu, bahwa kita milik kepunyaanNya, dan bahwa pengasihanNya berlaku selama-lamanya.

Mazmur 100 ini diberi judul "Pujilah Allah dalam baitNya" dan dimulai dengan mengatakan "Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!"

Memberikan pujian kepada Tuhan merupakan tanda ucapan syukur kita atas kasih karunia Tuhan yang besar dalam hidup kita, dan itu harus terjadi dengan penuh semangat dan penuh sukacita. Kita tidak boleh menunjukkan rasa terima kasih atas pemberian Tuhan dengan muka yang muram dan tidak bersemangat.

Ketika kita datang kepada Tuhan dalam hadiratNya yang suci dan agung, kita sebenarnya sedang diperhatikan oleh segala bala tentara surga yang berkumpul mengelilingi kemuliaan Tuhan. Karena itu kita harus datang dengan penuh sukacita, penuh hormat mengagungkan namaNya yang kudus dan perbuatan-perbuatan ajaib dan besar yang Tuhan lakukan dalam hidup kita.

Tembok-tembok Setan dalam pikiran kita seringkali berupa pikiran bahwa orang percaya harus bersikap serius, murung atau sedih untuk menunjukkan bahwa dia sedang berada dalam kesulitan atau peperangan. Itu yang biasa ditunjukkan oleh para pejabat negara bila menghadapi masalah-masalah yang berat dan serius. Namun bagi kita, tidak seperti itu. Karena bukan kita yang berperang melawan musuh-musuh kita, bukan karena upaya dan kekuatan kita, tetapi kemenangan karena Tuhan yang berperang dari pihak kita melawan musuh-musuh kita.

Untuk dapat memuji Tuhan dengan baik, kita perlu memiliki suatu hubungan intim dengan Tuhan, suatu komunikasi terus menerus dengan Tuhan. Doa adalah komunikasi kita dengan Bapa di Surga. Keinginan untuk terus berada dalam hadirat Tuhan yang mulia menjadi tujuan dan keinginan mendalam kita. Tuhan bagi kita seorang kekasih yang begitu rindu kita ingin bertemu dan berbicara dengannya. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Tuhan. Tuhan sangat rindu bertemu dengan kita, Dia menunggu kita datang kepada Dia. Kita ingat perumpamaan anak yang hilang, Bapa selalu menunggu anaknya kembali dengan penuh harap. Kasih Tuhan kepada kita telah ditunjukkan berkali-kali kepada kita manusia melalui Yesus Kristus yang bersedia melepaskan semua atribut kemuliaanNya sebagai Anak Allah, untuk menderita dan mati di kayu salib. Tuhan sudah menunjukkan kasihNya kepada kita sebelum kita bersedia menunjukkan kasih kita kepadaNya. 

Pujian adalah berterima-kasih atas perbuatan-perbuatan Tuhan dalam hidup kita. Saat kita sedang menderita sekalipun, pujian kepada Tuhan bisa menjadi senjata kita mengalahkan musuh-musuh kita. Ketika kita memuji Tuhan dalam saat tergelap dalam hidup kita karena perlakukan buruk yang kita terima dari orang lain misalnya, kita sebenarnya sedang menggantikan pikiran kita dan pikiran musuh-musuh kita yang mencoba memesongkan kita, mencoba menekan dan menakutkan kita, dengan pikiran Tuhan.

Firman Tuhan, nama Yesus, dan darah Yesus adalah senjata Tuhan yang mengubah pikiran kita. Kita dapat mencontoh Rasul Paulus dan Silas saat mereka dicambuk dan kemudian dimasukkan ke penjara, dirantai kaki dan tangan, di saat malam ketika luka-luka mereka makin perih, mereka justru bernyanyi dengan penuh semangat memuji Tuhan Yesus. Pujian-pujian mereka begitu keras sehingga dapat didengar oleh para tahanan yang lain. Apa yang terjadi kemudian adalah pertunjukkan kuasa Tuhan melalui gempa bumi hebat, pintu-pintu penjara terbuka lebar, dan rantai-rantai pengikat semua orang tahanan terlepas (Kisah 16:19-25).

Memuji Tuhan bukan hanya ketika kita diberkati saja, tetapi juga saat-saat tergelap dalam hidup kita. Memuji Tuhan harus menjadi bagian dari sikap hidup kita. Seperti sikap Daud dalam Mazmur 34:2: "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu".

Setiap dan segala waktu memuji Tuhan.

20 Nov 2014

0 comments:

Post a Comment

:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Popular Posts