Sunday, 11 October 2015

Seperti yang kita sedia maklum, kerajaan negeri Sarawak akan mengadakan pilihanraya sekali lagi bagi memilih kerajaan yang memerintah untuk lima tahun akan datang. Untuk itu, sekali ini saya ingin membawa saudara/I kepada firman Tuhan di dalam 2 Raja-raja 3:6-8 yang sedikit sebanyak membawa saudara merenungkan bersama saya.

3:6. Keluarlah raja Yoram pada waktu itu dari Samaria, lalu ia memeriksa barisan seluruh orang Israel. 3:7 Selanjutnya ia menyuruh orang kepada Yosafat, raja Yehuda, dengan pesan: "Raja Moab telah memberontak terhadap aku! Maukah engkau bersama-sama aku berperang melawan Moab?" Jawabnya: "Aku akan maju. Kita sama-sama, aku dan engkau, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu." 3:8 Lagi ia bertanya: "Melalui jalan manakah kita akan maju?" Jawabnya: "Melalui padang gurun Edom!"

 “Mengapa Tuhan menciptakan padang gurun seperti ini? Tidak ada keindahan sedikitpun yang bisa menyejukkan mata dan menyenangkan hati, hanya membuat pikiran dan hati menjadi makin kusut.”

Namun kemudian saya menemukan salah satu ayat dalam Alkitab, Amsal 21:19. Lebih baik tinggal di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah. “dan di dalam Yesaya 32:16 Di padang gurun selalu akan berlaku keadilan dan di kebun buah-buahan akan tetap ada kebenaran”

Padang gurun memiliki tempat yang sangat unik dalam Alkitab dan dalam setiap rencana keselamatan Tuhan bagi manusia. Segala kemenangan selalu harus melewati padang gurun. Orang Israel harus melewati padang gurun sebelum tiba di Kanaan. Banyak tokoh-tokoh Alkitab juga harus melewati padang gurun mereka sebelum menikmati kemenangan. Musa harus hidup di padang gurun selama hampir 40 tahun sebelum dipanggil memimpin umat Israel. Daud harus hidup di padang gurun selama 17 tahun sebelum menduduki singgasana raja. Begitu juga dengan raja Yosafat, ia harus melewati padang gurun Edom sebelum meraih kemenangan atas Moab. Yesus sendiripun harus dibawa ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis disana.

Padang gurun adalah rintangan atau hambatan yang harus dilalui dan diatasi sebelum menerima kemenangan. Itu adalah tempat pengujian komitmen seseorang, tempat dimana keadilan ditegakkan, tempat memisahkan mereka yang percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan dari mereka yang pura-pura percaya. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, ikut bersama dalam rombongan mereka segala macam orang. Ada mereka yang menyembah berhala-berhala Mesir, ada yang hanya ikut-ikutan, ada mereka yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, tetapi ada juga para bajingan yang menyusup masuk dengan maksud untuk merongrong orang Israel agar kembali ke Mesir (Bilangan 11:4). Para bajingan ini setiap hari mencari-cari kesempatan untuk menghasut agar bangsa Israel melawan Musa dan menghujat Tuhan.

Tuhan mengetahui jenis orang seperti itu dengan rencana-rencana mereka sehingga Tuhan membawa mereka melalui padang gurun. Di padang gurun itulah terjadi pemurnian Tuhan, pemisahan mereka yang taat dengan mereka yang tidak. Hanya mereka yang taat, seperti Yoshua dan Kaleb, dari para angkatan tua yang diijinkan Tuhan masuk ke Tanah Kanaan. Sedangkan mereka yang tidak taat, mereka terkapar mati di padang gurun. Itulah cara Tuhan memisahkan kambing daripada domba, atau emas murni dari kotoran.

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita juga harus bersedia melewati padang gurun sebelum menerima kemenangan. Padang gurun kita adalah kesulitan, penderitaan, penghinaan, kebingungan, kesusahan, kematian orang-orang yang dicintai, penolakan oleh orang-orang di sekitar kita, ancaman, penindasan, kelaparan, sakit penyakit, dan lain-lain.

Melalui pergumulan kita selama berada di padang gurun tersebut, sikap kita dibentuk, dan karakter kita diubah. Kalau kita menjaga iman percaya kita dan selalu percaya kepada Tuhan, maka kita dibentuk menjadi orang yang Tuhan inginkan, kita dipersiapkan untuk menerima mahkota/tropy kemenangan.

Proses perjalanan melewati padang gurun kita akan merubah sikap dan cara pandang kita. Kita mungkin menjadi orang yang lebih sabar terhadap orang lain. Mungkin menjadi orang yang lebih rendah hati, orang yang lebih peduli dan peka terhadap penderitaan orang lain, atau orang yang bersedia menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Perubahan selama di padang gurun merubah kita menjadi orang yang selalu bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang dimilikinya, orang yang lebih berkhikmat dalam membuat keputusan, atau orang yang mampu melihat dengan jelas tujuan hidupnya berdasarkan rencana Tuhan kepadanya.

Inilah peluang kita untuk menjadikan padang gurun ini sebagai tempat kemenangan. Ini peluang menjelang pilihanraya, membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup. Tidak mustahil hujan penyesalan akan turun menitis kemudian menjadi sungai dan pada akhirnya banjir akan berlaku. Semua orang berpusu – pusu mencari wajah Tuhan. Haleluya.
11 Oct 2015

0 comments:

Post a Comment

:) :)) ;(( :-) =)) ;( ;-( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.

Popular Posts