3:6. Keluarlah raja Yoram pada waktu itu dari Samaria, lalu ia memeriksa barisan seluruh orang Israel. 3:7 Selanjutnya ia menyuruh orang kepada Yosafat, raja Yehuda, dengan pesan: "Raja Moab telah memberontak terhadap aku! Maukah engkau bersama-sama aku berperang melawan Moab?" Jawabnya: "Aku akan maju. Kita sama-sama, aku dan engkau, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu." 3:8 Lagi ia bertanya: "Melalui jalan manakah kita akan maju?" Jawabnya: "Melalui padang gurun Edom!"
“Mengapa Tuhan menciptakan padang gurun
seperti ini? Tidak ada keindahan sedikitpun yang bisa menyejukkan mata dan
menyenangkan hati, hanya membuat pikiran dan hati menjadi makin kusut.”
Namun kemudian
saya menemukan salah satu ayat dalam Alkitab, Amsal 21:19. Lebih baik tinggal
di padang gurun dari pada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan
pemarah. “dan di dalam Yesaya 32:16 Di padang gurun selalu akan berlaku
keadilan dan di kebun buah-buahan akan tetap ada kebenaran”
Padang gurun
memiliki tempat yang sangat unik dalam Alkitab dan dalam setiap rencana
keselamatan Tuhan bagi manusia. Segala kemenangan selalu harus melewati padang
gurun. Orang Israel harus melewati padang gurun sebelum tiba di Kanaan. Banyak
tokoh-tokoh Alkitab juga harus melewati padang gurun mereka sebelum menikmati
kemenangan. Musa harus hidup di padang gurun selama hampir 40 tahun sebelum
dipanggil memimpin umat Israel. Daud harus hidup di padang gurun selama 17
tahun sebelum menduduki singgasana raja. Begitu juga dengan raja Yosafat, ia
harus melewati padang gurun Edom sebelum meraih kemenangan atas Moab. Yesus
sendiripun harus dibawa ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis disana.
Padang gurun
adalah rintangan atau hambatan yang harus dilalui dan diatasi sebelum menerima
kemenangan. Itu adalah tempat pengujian komitmen seseorang, tempat dimana
keadilan ditegakkan, tempat memisahkan mereka yang percaya sungguh-sungguh
kepada Tuhan dari mereka yang pura-pura percaya. Ketika bangsa Israel keluar
dari Mesir, ikut bersama dalam rombongan mereka segala macam orang. Ada mereka
yang menyembah berhala-berhala Mesir, ada yang hanya ikut-ikutan, ada mereka
yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, tetapi ada juga para bajingan yang
menyusup masuk dengan maksud untuk merongrong orang Israel agar kembali ke
Mesir (Bilangan 11:4). Para bajingan ini setiap hari mencari-cari kesempatan
untuk menghasut agar bangsa Israel melawan Musa dan menghujat Tuhan.
Tuhan
mengetahui jenis orang seperti itu dengan rencana-rencana mereka sehingga Tuhan
membawa mereka melalui padang gurun. Di padang gurun itulah terjadi pemurnian
Tuhan, pemisahan mereka yang taat dengan mereka yang tidak. Hanya mereka yang
taat, seperti Yoshua dan Kaleb, dari para angkatan tua yang diijinkan Tuhan
masuk ke Tanah Kanaan. Sedangkan mereka yang tidak taat, mereka terkapar mati
di padang gurun. Itulah cara Tuhan memisahkan kambing daripada domba, atau emas
murni dari kotoran.
Dalam
kehidupan kita sehari-hari kita juga harus bersedia melewati padang gurun
sebelum menerima kemenangan. Padang gurun kita adalah kesulitan, penderitaan,
penghinaan, kebingungan, kesusahan, kematian orang-orang yang dicintai,
penolakan oleh orang-orang di sekitar kita, ancaman, penindasan, kelaparan,
sakit penyakit, dan lain-lain.
Melalui
pergumulan kita selama berada di padang gurun tersebut, sikap kita dibentuk,
dan karakter kita diubah. Kalau kita menjaga iman percaya kita dan selalu
percaya kepada Tuhan, maka kita dibentuk menjadi orang yang Tuhan inginkan,
kita dipersiapkan untuk menerima mahkota/tropy kemenangan.
Proses
perjalanan melewati padang gurun kita akan merubah sikap dan cara pandang kita.
Kita mungkin menjadi orang yang lebih sabar terhadap orang lain. Mungkin
menjadi orang yang lebih rendah hati, orang yang lebih peduli dan peka terhadap
penderitaan orang lain, atau orang yang bersedia menolong orang lain tanpa
mengharapkan imbalan. Perubahan selama di padang gurun merubah kita menjadi
orang yang selalu bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang dimilikinya, orang
yang lebih berkhikmat dalam membuat keputusan, atau orang yang mampu melihat
dengan jelas tujuan hidupnya berdasarkan rencana Tuhan kepadanya.
Inilah peluang
kita untuk menjadikan padang gurun ini sebagai tempat kemenangan. Ini peluang
menjelang pilihanraya, membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup. Tidak
mustahil hujan penyesalan akan turun menitis kemudian menjadi sungai dan pada
akhirnya banjir akan berlaku. Semua orang berpusu – pusu mencari wajah Tuhan.
Haleluya.
0 comments:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.