Nyanyian pengajaran Daud, ketika ia ada di dalam gua: suatu doa. (142-2) Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN. (142-3) Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya. (142-4) Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku. (6) (142-7) Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku.
Mazmur ini adalah suatu Mazmur ratapan dari seseorang yang menghadapi musuh yang sangat kuat. Musuh itu bukan sekadar satu orang, tetapi suatu sistem dipadukan untuk mengejarnya. Daud berhadapan dengan Saul, Raja Israel yang mengerahkan seluruh rakyat di seluruh negara untuk mengejar dan menangkap Daud.
Menghadapi satu orang mungkin tidak seberapa dibandingkan menghadapi satu sistem yang terorganisasi untuk mengalahkan anda. Bila anda berhadapan dengan musuh seperti itu, maka musuh itu ada dimana-mana. Musuh itu selalu mengintip anda, mengejar anda, dan memburu anda kemanapun anda melangkah.Musuh seperti itu sangat sabar mencari kesalahan anda, dia mengintip anda, dia memasang perangkap dimana-mana untuk menangkap anda, sehingga bila anda salah melangkah anda akan langsung masuk dalam perangkap mereka.
Musuh seperti itu juga tidak memiliki belas kasihan kepada anda. Mereka hanya memiliki satu tujuan iaitu membunuh dan menghancurkan anda. Pemazmur berada dalam situasi seperti. Setiap hari ia harus bersembunyi dalam gua, ia tidak berani menampilkan diri, karena musuh-musuhnya bagaikan singa mengaum dimana-mana menunggu mangsanya keluar untuk menerkamnya. Daud haus dan lapar. Berhari-hari ia hanya terkurung dalam kegelapan gua tanpa berani bersuara. Terkurung dalam penjara masih lebih baik dari pada terkurung dalam gua gelap sambil diintai oleh musuh-musuh yang ingin menerkam dan membunuhnya. Hanya kegelapan tanpa adanya siang. Hari-hari seperti tak pernah berakhir, begitu juga dengan kesulitan, seperti tidak ada jalan keluarnya. Semuanya seperti menunggu saat untuk berakhir, saat dimana ia lemah, menyerah dan dibunuh.
Itulah situasi yang dihadapi Daud saat ia harus bersembunyi dari kejaran Raja Saul dengan ribuan tenteranya. Perbedaan antara hidup dan matinya hanya setipis rambut di kepalanya.
Dalam kehidupan kita saat ini, kita sering berjumpa dengan musuh yang sangat kuat dalam versi yang mungkin agak berbeda, tetapi prinsipnya masih tetap sama, musuh yang sangat kuat bagi kita.
Sebagai contoh, saat kita berada dalam kesusahan atau kemalangan besar, saat kita terjatuh dalam masalah yang tidak mampu kita diatasi, jatuh sakit, kehilangan pekerjaan, keluarga, harga diri, terasing, teraniaya dan kehilangan harapan, atau saat kita ditinggalkan oleh banyak orang, tidak ada yang mau membantu. Kemanapun kita memandang hanya ada musuh menanti. Tidak ada seorangpun yang mau menghiraukan kita, karena membantu kita sama saja dengan membawa bencana dalam kehidupan mereka. Kita seperti penyakit menular, berdekatan dengan kita hanya menularkan penyakit kepada mereka.
Dalam menghadapi musuh yang kuat, anda tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan jasmani semata-mata, karena kekuatan jasmani anda akan makin hari makin lemah dan pada akhirnya anda akan kalah. Lalu kepada siapakah anda mencari bantuan dan perlindungan di saat-saat yang paling gelap dalam hidup anda, saat anda tidak berdaya? Apakah yang anda lakukan saat anda terkurung terkurung dalam “gua” anda?. Apakah yang anda lakukan bila setiap hari yang anda lihat dan rasakan hanya kegelapan pikiran, tidak ada jalan keluar dan bantuan yang boleh anda harapkan dari orang lain?
Dalam situasi berhadapan dengan musuhnya yang sangat kuat, pemazmur menyampaikan petisinya kepada Tuhan. Ia menaikkan seruannya, menyampaikan keluhannya, dan permohonannya kepada Tuhan (Maz 142:2-3). Ia berdoa dengan penuh keyakinan kepada Tuhan berdasarkan pengalamannya masa lalunya bersama Tuhan. Ia tidak berdoa meminta pembalasan Tuhan bagi musuh-musuhnya, Ia tidak mengucapkan kata-kata kutukan kepada musuh-musuhnya. Ia hanya mengemukan situasinya, keputusasaannya sendiri dan memohon kelepasan Tuhan bagi dirinya. Ia meratap sebagai seorang yang malang/tawanan yang memohon pengampunan Tuhan (Mazmur 142:6-7). Ia berjanji kepada Tuhan bila Tuhan melepaskannya, ia akan bersyukur, ia akan memuji dan memuliakan Tuhan, ia akan menceritakan seluruh kebaikan-kebaikan Tuhan dimuka umum (Mazmur 142: 7).
Apa yang dapat kita belajar dari pengalaman Pemazmur?
Pertama Tuhan tidak pernah mengabaikan seruan orang yang meminta kepadaNya dengan sungguh-sungguh. Bahkan bila kita terjatuh dalam kesulitan apapun karena orang lain atau karena kesalahan kita sehingga tak orang yang mau membantu kita, Tuhan selalu bersedia menerima kita bila kita mau datang kepadaNya. Seperti dikatakan oleh Pemazmur dalam Mazmur 27:10 “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” Tuhan kita, Allah Abraham, Ishak dan Yakub adalah Allah yang penuh kasih, karena begitu besar kasihNya kepada kita yang berdosa, Ia bersedia menerima dan menanggung semua dosa dan kelemahan kita agar kita boleh memperoleh keselamatan kembali. FirmanNya dalam Yesaya 1:18 “Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”
Apa yang Tuhan ingin dari kita dalam menghadapi saat-saat yang tersulit dalam hidup kita adalah tetap setia kepadaNya, tetap percaya kepadanya. Berakarlah dalam Tuhan, sebab jika pohon akar-akarnya dalam dan kuat, pohon itu tak perlu kuatir akan angin yang datang menerjangnya. Nabi Yermia dalam Yermia 17:7 dan 8 mengatakan: “17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. “
Tuhan menyertai anda sekalian. Amin.
Haleluya
ReplyDeleteGBU