Yeremia merasakan kesakitan itu ketika
memberitakan penghukuman Allah atas bangsa Yehuda (Yeremia 15:5-9). Dia tidak
diendahkankan bahkan dikutuki banyak orang (Yeremia 15:10). Dia duduk seorang
diri dan menanggung kesakitan yang tiada berkesudahan (Yeremia 15:15, 17-18).
Apa yang memotivasi dan menguatkan dia hingga tetap setia? Firman Tuhan
(Yeremia 15:16)! Yeremia menempatkan firman Tuhan di dalam hatinya sehingga
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan keberadaannya. Ketika
menemukan makna kebenaran firman-Nya, hatinya dipenuhi kegirangan dan suka
cita. Semakin lama dan semakin banyak ia menikmati firman-Nya, semakin ia
menyadari apa makna membawa nama Tuhan dalam hidupnya. Disamping itu Yeremia
juga dikuatkan dan dibentengi oleh Allah (Yeremia 15:20).
Terhadap bangsa ini Aku
akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga; mereka akan memerangi
engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk
menyelamatkan dan melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN. (Yeremiah 15:20).
Mengikut Tuhan bukan perkara mudah. Itulah
fakta yang dibacakan melalui kehidupan tokoh-tokoh Alkitab, dari Abraham hingga
Rasul Yohanes. Hari ini kita menyaksikan kenyataan yang sama dalam satu adegan
kehidupan Yeremia. Dia meratap, mempertanyakan jalan hidupnya, seraya menggugat
Tuhan.
Yeremia merasa telah memberi yang terbaik
dalam mengikut Tuhan, tetapi kini dia berada di tepi jurang. Memang ketika
Tuhan memanggil, Tuhan memberi jaminan kukuh bahwa DIA akan "menjadi tiang
besi dan ... tembok tembaga" (Yer. 1:18), yang akan berdiri tegak melawan
seluruh bangsanya dan para pemimpinnya. Namun di tengah kehidupannya mengikut
Tuhan, Jeremiah merasakan hantaman yang begitu hebat sehingga dia
bertanya-tanya, jangan-jangan besi dan tembaga pun sebenarnya tak sekuat yang semula
dia kira (Yeremia 15:12).
Yeremia sudah memberikan yang terbaik kepada
Tuhan. DIa memelihara hidup yang kudus, baik dalam segi pribadi (Yeremia 15:16)
maupun ketika berhadapan dengan orang ramai (Yeremia 15:17), tetapi mengapa
hidupnya sengsara dan penuh keluh-kesah? Yeremia merasa bahwa Tuhan berlaku
tidak adil (Yeremia 15:18). Namun Tuhan tidak menjawab Yeremia menurut syarat dan
ketentuan yang Yeremia harapkan; sebaliknya Dia menawarkan perspektif yang
baru: kehidupan orang-orang di sekitar memang seringkali menghampakan, tetapi
panggilan yang Tuhan menuntut komitmen yang sangat tinggi. Tuhan pun menegaskan
bahwa sebaik-baiknya pelayanan, bukan bererti Tuhan akan berhutang kepada
manusia.
Menjawab panggilan Tuhan menuntut komitmen
yang sangat tinggi dalam kehidupan peribadi maupun luaran, dalam perkataan juga
seluruh hidup. Tuhan kembali menegaskan janji-Nya kepada Yeremia bahawa DIA
akan menjadi "tembok berkubu dari tembaga" (Yeremia 15:20), kali ini dengan
tegas bahwa kekuatan Tuhan di balik tembok tembaga ini akan terbukti bukan
karena diabaikan orang, tetapi oleh karena kuat berdiri tegak di tengah cabaran,
badai mahupun penggumulan terhebat sekalipun (Yeremia 15:20-21). Tuhan tidak
menjanjikan panggilan-Nya akan senang dan mudah. Tetapi DIA berjanji bersama
kita melalui pergumulan terhebat sekalipun.
Pesan kepada kita semua adalah berdasarkan
sepotong ayat iaitu bernama KESETIAAN. Kita pun seringkali harus menelan pil
pahit, tidak dipedulikan bahkan mengalami penderitaan ketika mempertahankan
iman kita. Kita semua ingin menjadi orang yang disukai oleh masyarakat.
Seringkali kita dapat menjadi orang yang demikian tanpa mengkompromikan
kebenaran firman-Nya. Namun ketika terjadi konflik dan ketegangan antara
mempertahankan kebenaran firman-Nya dan memelihara hubungan dengan sesama, kita
harus selalu ingat bahwa kita membawa nama Tuhan dalam kehidupan kita. Biarlah
firman-Nya 'Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau'
yang akan menuntun dan menguatkan kita, ketika kita berperan sebagai utusan
Allah di dalam masyarakat.
www.sarawakdoaku.com
06 Jun 2017
0 comments:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.