Kembali kita
kepada perkara pokok sebenar perkongsian ini iaitu mari kita meneladani Ezra
yang tercatat dalam Alkitab.
Dalam pengalaman
saudara-saudari sepanjang beribadah di Gereja, berapa lamakah saudara-saudari
pernah mendengar firman Tuhan di bacakan? Rata-rata pengkhotbah menyampaikan
firman Tuhan adalah selama 45 minit sehingga satu jam. Kalau lebih daripada
itu, khotbah sudah dianggap terlalu panjang dan membosankan. Memang ada juga
gereja tertentu yang panjang khotbahnya dari satu jam sehingga dua jam.
Tapi hal ini masih
jauh ketinggalan pada saat Ezra membacakan kitab Taurat untuk bangsa Israel.
Berapa lama? Ezra membaca kitab Taurat dari pagi sampai ke tengahari dalam
keadaan berdiri iaitu lebih kurang 6 jam.
Lalu
pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke
hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang
dapat mendengar dan mengerti.
Ia
membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu
gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat
mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab
Taurat itu.
(Nehemiah
8:3-4)
Bayangkan betapa
lamanya, orang-orang Isreal pada ketika itu mendengar Taurat yang dibacakan
oleh Ezra. Ezra juga membaca bukannya duduk tetapi berdiri selama 6 jam.
Orang-orang Isreal yang mendengar juga tidak duduk tapi juga mendengar sambil
berdiri.
Ezra
membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi
dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.
(Nehemiah
8:6)
Boleh kita
bayangkan mereka mendengar Taurat dengan berdiri selama 6 jam? Apakah mereka
bosan, mengantuk dan tidak selesa? Tenyata tidak, sebaliknya mereka mendengar
pembacaan Taurat dengan penuh perhatian. Umat Israel yang mendengar berkata ‘Amin,
Amin’ sambil mengangkat tangan dan mereka sampai menangis ketika mendengar
kalimat-kalimat Taurat dibacakan.
Dengan penuh perhatian seluruh
umat
mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu
(Nehemiah 8:4)
Apa yang kita
teladani disini, mengapakah Umat Israel begitu menghargai Taurat pada ketika
itu? Jawapannya, mereka benar-benar haus dan lapar akan firman Tuhan. Mereka
sudah terlalu lama hidup dalam pembuangan di Babel dan tidak mendengar Taurat
Musa. Pada zaman Ezra, orang-orang Isreal kembali daripada pembuangan.
Sepanjang tempoh itu, mereka tidak mendengar firman Tuhan dibaca. Betapa haus,
lapar dan rindunya mereka mendengar firman Tuhan.
Berbeza sekali
dengan segelintir daripada jemaat Gereja pada hari ini, ketika khotbah ada yang
tidak menumpukan perhatian kepada firman yang dibacakan. Ada yang bermain-main
dengan telefon pintar, bercakap dan ada juga yang melayani fikiran yang entah
ke mana, ada yang gelisah kerana mendengar khotbah yang tidak kunjung selesai bahkan
mungkin ada yang pulang sebelum khotbah selesai.
Yesus Kristus sendiri berpesan; Berbahagialah
orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan (Matius
5:6). Seandainya kita tidak menghargai firman Tuhan, bagaimana mungkin kita
boleh mendapatkan janji-janji Tuhan untuk kehidupan kita?
Sebab itu, milikilah rasa lapar dan haus
akan firman Tuhan senantiasa dalam kehidupan kita. Semakin banyak kita membaca,
mendengar dan mengali-gali firman Tuhan maka semakin banyak kita menemukan
mutiara kebenaran.
Artikel ini sumbangan
Robin Maramat,
Master in Christian Studies
(M.C.S)
0 comments:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.