Dengan tekad kuat
orang majus menempuh perjalanan melintasi negara untuk mencari Raja yang baru
lahir. Mereka mempercayakan diri pada pimpinan bintang (Matius 2: ayat 2, 10),
tanpa tahu dengan persis di manakah tempat Raja itu, siapa nama-Nya, dan
seperti apa rupa-Nya. Maka ketika menemukan Sang Raja, hati mereka dipenuhi
sukacita (ayat 10). Mereka juga memberikan persembahan bagi Dia (ayat 11).
Ini sangat berbeda
dari apa yang dilakukan oleh sesetangah orang Kristian dewasa ini.
Kecenderungan sebilangan kecil mereka hanya untuk meminta Tuhan untuk datang
menghampiri, menolong, membuat mukjizat, dan menyatakan kuasa-Nya secara ajaib.
Namun sering lupa memberikan respon dan persembahan yang terbaik kepada Tuhan.
Persembahan yang
diberikan orang majus menunjukkan pengakuan mereka bahwa bayi Yesus adalah
Raja. Bukan bahwa kelak Dia akan jadi Raja, tetapi pada saat itu juga mereka
mengakui Dia sudah lahir sebagai Raja. Apa yang yang lebih penting dari
persembahan adalah fakta bahwa mereka sujud menyembah Yesus (ayat 11). Itulah
respon dari sikap menyembah, yang bukan hanya memberikan sesuatu, tetapi ada
sikap menunduk, yang menyatakan kerendahan diri dan ketidak layakan di hadapan
yang disembah.
Penyembahan orang
majus kepada Yesus memberikan teladan dan contoh tentang ketaatan kepada
pimpinan dari syurga (ayat 12). Mereka mengetahui siapa Raja sesungguhnya yang
harus dihormati, karena itu mereka pulang mencari jalan lain dan tidak mahu
menjadi orang suruhan Herodes. Kisah di hari Natal ini membuat kita harus
merenung, adakah sikap, semangat, dan kesungguhan hati orang majus juga
bergelora di hati kita? Adakah komitmen baru untuk memberikan yang terbaik bagi
Yesus sebagaimana Tuhan Yesus Kristus telah memberikan yang terbaik bagi kita
semua yang percaya.
Salam Natal dari
sarawakdoaku.com
0 comments:
Post a Comment
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.